Laporan
Praktikum Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Maret 2021
MENANAM POHON BERNILAI EKONOMI TINGGI
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut.,
M.Si.
Disusun :
Gopin Sahputra Pasaribu 191201047
Denise Angelina E.Siburian 191201052
Sri Meliana Saragih 191201109
Bayu Nur Prasetyo 191201110
Ultari Manalu 191201126
Hamdan Christian P. Sitompul 191201202
Syahli Murdami Pasaribu 191201203
Kelompok 2
HUT 4 C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan laporan praktikum ekonomi sumber daya hutan yang
berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi” ini dengan baik dan tepat
waktu. Laporan praktikum ekonomi sumberdaya hutan ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas praktikum ekonomi sumberdaya hutan dan sebagai salah satu
syarat masuk praktikum ekonomi
sumberdaya hutan, Program Studi Kehutanan,
Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terimakasih
yang besar kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen pembimbing mata
kuliahEkonomi sumberdaya hutan, yang telah mengajarkan materi praktikum dengan
baik begitu juga dengan asisten
praktikum ekonomi sumberdaya
hutan yang telah membantu penulis dalam melaksanakan praktikum yang hasilnya
kemudian dituangkan dalam laporan ini.
Penulis sadar,penulisan laporan ini masih jauh dari kata
sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Oleh sebab itu, penulis sangat
mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan laporan
praktikum ekonomi sumberdaya hutan ini. Akhir kata, semoga laporan praktikum ekonomi sumberdaya hutan ini bermanfaat bagi
kita semua.
Medan,
Maret 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah............................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................ 2
BAB II ISI
2.1
Pohon................................................................................................ 3
2.2
Menanam........................................................................................... 4
2.3
Teknik yang dilakukan dalam menanam........................................... 4
2.4
Jenis Pohon yang Bernilai Ekonomis Tinggi dan Produk yang
...... Dihasilkan......................................................................................... 5
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan....................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan
penanaman merupakan kegiatan inti dari budidaya hutan. Hutan yang mencakup
areal yang luas, memerlukan biaya yang besar sehingga diperlukan keterampilan
yang cukup. Kegiatan penanaman meliputi pemilihan jenis, persiapan lapangan,
pemasangan ajir, pembuatan lubang tanam, pengangkutan bibit, penanaman,
penyulaman serta pemeriksaan pekerjaan dan evaluasi penanaman. Kegiatan penanaman
mempunyai beberapa macam tujuan diantaranya untuktujuan penanaman rutin,
penanaman pengayaan juga mempunyai tujuan untuk medapatkan tegakan yang sehat
serta memiliki persediaan tanaman yang cukup dimasa mendatang. Satu pohon
memiliki sejuta manfaat bagi
kelangsungan hidup berbagai makhluk hidup. Namun, beberapa tahun belakangan ini
pesatnya pembangunan menyebabkan banyak pohon ditebang dan dikorbankan. Pohon
yang ditebang menyebabkan panas bumi meningkat, jumlah pasokan oksigen semakin
berkurang dan tingkat polusi udara cenderung meningkat. Penghijauan memiliki
beberapa manfaat diantaranya sebagai paru-paru kota di mana pada pertumbuhannya
menghasilkan oksigen yang sangat diperlukan bagi kehidupan makhluk
hidup (Lanny et
al., 2019).
Secara
umum, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilih jenis pohon.
Yaitu, tujuan penanaman, kecocokan jenis dengan tempat tumbuhnya, ketersediaan
bibit yang akan ditanam, dan penguasaan teknik budidaya agar pohon mempunyai
nilai ekonomi yang tinggi setelah dipanen. Kesesuaian jenis pohon dengan tempat
tumbuhnya memungkinkan Pohon akan tumbuh secara optimal. Hal ini dapat
memberikan dampak positif terhadap lingkungan, baik berkenaan dengan nila
ekonomi, perlindungan dan konservasi tanah maupun pengaturan tata air. Salah
satu aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam rencana penanaman
pohon adalah ketersediaan jenis tanaman yang akan ditanam. Jenis tanaman yang
dimaksud harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) Pohon yang akan
ditanam, dapat menjamin ketersediaan bahan baku kayu yang diperlukan oleh
industri perkayuan yang didukungnya. 2) Persyaratan tempat tumbuhnya sesuai
dengan kondisi tempat tumbuh pada lahan yang disediakan supaya tanaman dapat
tumbuh. 3) Mengetahui teknik
budidaya dan menguasai dengan mudah dalam melaksanakan pembudidayaannya (Sri
Wilarso, 2006).
Pengolahan
tanah dilakukan dengan tujuan agar bibit yang ditanam memperoleh media tumbuh
yang baik, sehingga tumbuhnya menjadi optimal. Ada beberapa Metode pengolahan
tanah, yaitu; pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan mesin-mesin
traktor, dan pengolahan tanah secara manual, dengan menggunakan tenaga manusia
dan peralatan yang sederhana. Pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu Gebrus
I untuk membalikkan tanah dan Gebrus II untuk menghaluskan tanah hingga siap
untuk ditanami (Carolina et al., 2015).
Nilai ekonomi adalah
nilai suatu barang atau jasa jika diukur dengan uang. Jadi nilai ekonomi hasil
hutan dapat juga diartikan sebagai nilai harga hasil hutan yang dimanfaatkan
yang dapat ditukarkan dengan uang. Penilaian ekonomi sumber daya hutan adalah
suatu metode atau teknik untuk mengevaluasi nilai uang dari barang atau jasa
yang diberikan oleh suatu kawasan hutan.
Dalam melakukan penilaian ekonomi suatu barang atau jasa dapat dilakukan
dengan beberapa metode yaitu metode metode nilai pasar, metode nilai relatif,
dan metode biaya pengadaan. Metode nilai pasar digunakan jika barang atau jasa tersebut
sudah memiliki nilai pasar (Carolina et
al., 2015).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian pohon?
1.2.2 Apa pengertian menanam?
1.2.3 Apa saja teknik yang dilakukan dalam menanam
1.2.4 Apa saja jenis-jenis pohon yang bernilai tinggi dan
apa produk yang dihasilkan ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian pohon
1.3.2 Untuk mengetahui pengertian menanam
1.3.3 Untuk mengetahui teknik yang dilakukan dalam menanam
1.3.4 Untuk mengetahui jenis-jenis pohon yang bernilai
tinggi dan apa produk yang dihasilkan
BAB II
ISI
2.1 Pohon
Dalam
botani, pohon adalah tumbuhan menahun dengan batang yang tumbuh memanjang,
mendukung cabang dan daun pada sebagian besar spesies. Dalam beberapa
penggunaan, definisi pohon mungkin lebih sempit, biasanya hanya mengacu pada
tanaman berkayu dengan pertumbuhan sekunder, tanaman yang dapat digunakan
sebagai kayu, atau tanaman yang tumbuh hingga ketinggian tertentu. Dalam definisi
yang lebih luas, palem, pakis, pisang, dan bambu juga termasuk jenis pohon.
Pohon bukanlah kelompok taksonomi tetapi mencakup berbagai spesies tumbuhan
yang mengembangkan batang dan cabang sebagai cara untuk menjulang di atas
tumbuhan lain demi bersaing mendapatkan sinar matahari. Pohon cenderung berumur
panjang, beberapa pohon bisa hidup hingga beberapa ribu tahun. Pohon telah
tumbuh di Bumi setidaknya selama 370 juta tahun. Diperkirakan terdapat sekitar
tiga triliun pohon dewasa di dunia.
Pohon
biasanya memiliki banyak cabang sekunder yang ditopang oleh batangnya dari
tanah. Batang ini biasanya mengandung jaringan kayu untuk kekuatan, dan
jaringan pembuluh untuk membawa zat nutrisi dari satu bagian pohon ke bagian
lain. Pada kebanyakan pohon, pembuluh ini dikelilingi oleh lapisan pepagan
(kulit kayu) yang berfungsi sebagai penghalang dan pelindung. Di bawah tanah,
akar bercabang dan menyebar luas; akar berfungsi untuk menambatkan pohon dan
menyerap air, kelembapan dan nutrisi dari tanah. Di atas tanah,
cabang-cabangnya terbagi menjadi cabang, ranting dan pucuk yang lebih kecil.
Pucuk biasanya menghasilkan daun, yang menangkap energi cahaya dan mengubahnya
menjadi gula melalui fotosintesis, menyediakan makanan untuk pertumbuhan dan
perkembangan pohon.
Pohon biasanya berkembang biak dengan
menggunakan biji. Bunga dan buah juga umum ditemui, tetapi beberapa pohon,
seperti tumbuhan runjung, memiliki kerucut serbuk sari dan kerucut biji
alih-aluh bunga dan buah. Palem, pisang, dan bambu juga menghasilkan biji,
tetapi pohon pakis menghasilkan spora. Pohon memainkan peran penting dalam
mengurangi erosi dan menjaga iklim. Pohon menghilangkan karbon dioksida dari
atmosfer dan menyimpan karbon dalam jumlah besar pada jaringannya. Pohon dan
hutan menyediakan habitat bagi banyak spesies hewan dan tumbuhan. Hutan hujan
tropis adalah salah satu habitat dengan keanekaragaman hayati paling banyak di
dunia. Pohon menyediakan keteduhan dan tempat tinggal bagi banyak spesies, kayu
untuk konstruksi, bahan bakar untuk memasak dan pemanas, buah untuk bahan
makanan serta banyak kegunaan lain. Di beberapa bagian dunia, hutan menyusut
karena pohon ditebangi untuk meningkatkan jumlah lahan yang tersedia untuk
pertanian. Karena umur panjang dan kegunaannya, pohon serung dianggap sakral,
banyak ditemui hutan larangan atau hutan suci dalam berbagai budaya. Pohon juga
merupakan tema umum dalam berbagai mitologi dunia.
2.2 Menanam
Maksud
dilaksanakan penanaman pohon ini adalah untuk meningkatkan kepedulian dari
berbagai pihak akan pentingnya penanaman dan pemeliharaan pohon yang
berkelanjutan dalam mengurangi dampak pemanasan global dan untuk mencapai
Pembangunan Indonesia yang hijau (Green Development Mechanism). Tujuan dari
pada Penanaman pohon ini adalah : Mengurangi dampak pemanasan Global,
meningkatkan absorbsi gas co2 , so2 dan polutan lainny mencegah banjir,
kekeringan dan tanah longsor, eningkatkan upaya konversi sumberdaya genetik
tanaman hutan dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menanam dan
memelihara tanaman.
Penanaman adalah cara kita menanam,
menanam benih secara langsung atau pindah tanam bibit. Saat menanam benih
secara langsung, hal-hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana ketahanan
benih tersebut. Umumnya, benih yang ditanam langsung adalah benih yang daya
hidupnya tinggi, dan ukurannya sedang hingga besar. Daya hidup tinggi yang
dimaksud adalah tanaman yang mudah dan cepat tumbuh. Umumnya, tanaman-tanaman
yang dapat tumbuh 2-7 hari setelah semai/tanam. Ukuran benih yang besar juga
memudahkan kita untuk mendeteksi benih ketika gagal tumbuh. Jika ukuranya kecil
atau halus, kita akan kesulitan mendeteksi karena ada kemungkinan benih terbawa
air.
2.3 Teknik
yang Dilakukan dalam Menanam
Hal-hal yang mempengaruhi
keberhasilan penanaman antara lain :Pemilihan jenis pohon yang tepat;
Penggunaan benih dan bibit yang unggul; Kesesuaian tempat tumbuh; Kesesuain
musim tanam; Teknik menanam yang benar; Pola tanam; Aman dari gangguan, dan
Pemeliharaan yang baik.
2.3.1 Cara Penanaman
Berbeda-bedanya kondisi lahan (kelerengan,
ketinggian tempat, penutupan vegetasi, pola penggunaan lahan, kesuburan tanah,
kepekaan erosi, dan tujuan penanaman) nantinya memerlukan Cara, Sistem, dan
Pola Tanam yang berbeda.
·
Pada lahan terbuka dan datar
penanaman dilakukan dengan cara: baris dan larikan tanaman lurus atau tanaman
jalur dengan pola tumpangsar. Pada lahan terbuka dan miring, jalur penanaman
mengikuti arah konturPada lahan terbuka dan miring, jalur penanaman mengikuti
arah kontur
·
Pada lahan bervegetasi jarang (200 -
500 pohon/ha), penanaman dilakukan dengan cara sisipan atau sebagai batas
lahan/kebun.
2.3.2 Sistem Penanaman
·
Sistem Cemplongan: Pengolahan tanah
hanya dipiringan di sekitar lobang tanaman. Sistem ini cocok pada lahan-lahan
yang miring dan peka terhadap erosi.
·
Sistem Jalur: Pembuatan lubang tanam
dan pembersihan lapangan sepanjang jalur tanaman. Teknik ini dapat diterapkan
di lahan datar dan lereng bukit.
·
Sistem Tunggal: teknik ini
dilaksanakan dengan tanpa olah tanah, lubang tanaman dibuat dengan tugal, dan
cocok untuk pembuatan tanaman dengan penaburan benih langsung, lahan dengan
kemiringan cukup tinggi, tanahnya subur, dan peka erosi.
2.3.3 Pola Penanaman
Terdapat dua pola penanaman, yaitu sejenis
(monokultur) dan campuran/ tumpangsari.
·
Pola Monokultur: merupakan pola
penanaman hanya satu jenis tanaman tahunan pada suatu lahan.
·
Pola Tumpangsari (Campuran):
merupakan pola penanaman antara tanaman umur panjang dan tanaman semusim pada
satu lahan yang sama.
2.4 Jenis
Pohon yang Bernilai Ekonomis Tinggi dan Produk yang Dihasilkan
1.
Pinus (Pinus merkusii)
Pinus merupakan salah satu pohon penghasil kayu bernilai ekonomis tinggi
dan juga penghasil getah sehingga disebut pohon berfungsi ganda. Jenis Pinus
yang mendominasi di Indonesia adalah Pinus merkusii,
daerah penyebarannya yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan seluruh
Jawa. Hingga saat ini getah Pinus masih menjadi HHBK “primadona” di pasar
nasional hingga internasional. Getah Pinus dapat diolah menjadi gondorukem.
Gondorukem merupakan produk hasil penyulingan dari getah Pinus yang biasa
disebut gum rosin, pine rosin, colophony atau kucing gondorukem berupa padatan
berwarna kuning jernih sampai kuning tua sedangkan hasil sampingan dari proses
produksi gondorukem yaitu terpentin yang berupa cairan berwarna jernih (Wibowo,
2006).
Menurut Statistik Kehutanan Indonesia (2001),
kegunaan gondorukem adalah untuk bahan baku industri kertas, keramik, plastik,
cat, batik, sabun, tinta cetak, politur, farmasi, dan kosmetik. Sedangkan
terpentin digunakan sebagai pelarut minyak organik dan resin. Dalam industri
digunakan sebagai bahan semir sepatu, logam dan kayu hingga kamper sintetis.
Indonesia merupakan produsen gondorukem ke dua setelah Cina dalam perdagangan
internasional. Delapan puluh persen produksi gondorukem dan terpentin
dialokasikan untuk kebutuhan eksport ke Eropa, India, Korea Selatan, Jepang dan
Amerika. Berdasarkan data statistik Kehutanan Provinsi Sumatera Utara produksi
gondorukem di Kabupaten Karo setiap tahunnya sebanyak 1500 kg/ha.
Pohon Pinus (Pinus
merkusii) dapat menghasilkan getah yang dapat diolah lebih lanjut untuk
menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pada tahun
2015, produksi getah Pinus secara nasional mencapai 108,945.33 ton (Data Ditjen
Pengelolaan Hutan Lestari, 2015). Getah yang berasal dari pohon Pinus berwarna
kuning dan bertekstur lengket, getah tersebut tersusun dari campuran bahan
kimia yang kompleks. Unsur-unsur utama yang menyusun getah pinus adalah asam
terpen dan asam abietic. Campuran bahan tersebut larut dalam alkohol, bensin,
eter, dan sejumlah pelarut organik lainnya, tetapi tidak larut dalam air. Pohon
Pinus idealnya dapat memproduksi getah sebanyak 6 kg/tahun tiap pohonnya.
Getah Pinus
yang telah disadap kemudian diolah dengan proses destilasi (penyulingan). Dari
hasil penyulingan getah Pinus merkusii rata-rata dihasilkan
64% gondorukem, 22,5% terpentin, dan 12,5% kotoran. Gondorukem merupakan hasil
pembersihan terhadap residu proses destilasi uap terhadap getah Pinus, hasil
destilasinya sendiri menjadi terpentin. Gondorukem dan terpentin yang biasa
digunakan dalam industri batik, sabun, bahan plitur, dan bahan pelarut cat.
2.
Mahoni (Swietenia macrophylla)
Tanaman
mahoni adalah tanaman tahunan dengan tinggi yang bisa mecapai 10 – 20 m dan
diameter lebih dari 100 cm. Sistem perakaran tanaman mahoni yaitu akar
tunggang. Batang berbentuk bulat, berwarna cokelat tua keabu-abuan, dan
memiliki banyak cabang sehingga kanopi berbentuk payung dan sangat rimbun.
Swietenia macrophylla berasal dari benua Amerika yang beriklim tropis. Pertama
kali masuk ke Indonesia (ditanam di Kebun Raya Bogor) Tahun 1872. Mulai
dikembangkan seara luas di pulau Jawa antara tahun 1897 sampai 1902.
Tanaman
mahoni sudah lama dibudidayakan di Indonesia dan sudah beradaptasi dengan iklim
tropis di Indonesia. Nama asing dari tanaman ini adalah West Indian Mahogany.
Mahoni adalah tumbuhan tropis yang tumbuh liar di hutan jati, pinggir pantai dan
banyak ditanam di pinggir jalan atau di lingkungan rumah dan halaman
perkantoran sebagai tanaman peneduh. Tanaman ini termasuk jenis tanaman yang
tidak memiliki persyaratan tipe tanah secara spesifik, mampu bertahan hidup
pada berbagai jenis tanah bebas genangan dan reaksi tanah sedikit asam-basah
tanah, gersang atau marginal walaupun tidak hujan selama berbulan-bulan mahoni
masih mampu untuk bertahan hidup. Pertumbuhan mahoni akan tetap subur, bersolum
dalam dan aerasi baik pH 6,5 sampai 7,5 tumbuh dengan baik sampai ketinggian
maksimum 1.000 mdpl sampai 1.500 mdpl.
Tanaman
mahoni (Swietenia macrophylla) banyak ditanam sebagai pohon pelindung karena
sifatnya yang tahan panas dan memiliki daya adaptasi yang baik terhadap
berbagai kondisi tanah sehingga tetap bertahan menghiasi tepi jalan di beberapa
daerah. Tanaman ini dikembangkan pada awalnya di wilayah Jawa sejak jaman
penjajahan Belanda. Kayu mahoni mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi
sehingga dibudidayakan untuk keperluan sumber bahan baku industri. Kualitas
kayunya keras dan memiliki warna kemerahan, sangat baik digunakan untuk meubel,
furniture, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan. Kayu mahoni memiliki
kualitas yang mendekati kualitas kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai
primadona kedua. Berdasarkan jenisnya, mahoni terdiri atas mahoni berdaun kecil
(Swietenia mahagoni) dan mahoni berdaun lebar (Swietenia macrophylla). Kualitas
kayu mahoni berdaun kecil lebih baik dibandingkan mahoni berdaun lebar.
Mahoni termasuk kayu yang mudah dibudidayakan
karena dapat tumbuh pada berbagai tempat dan berbagai jenis tanah. Umumnya
dapat tumbuh pada tanah yang agak liat dengan ketinggian 1000 mdpl. Telah
banyak penelitian yang dilakukan mengenai tanaman mahoni, dimana dihasilkan
keragaman genetik mahoni (Swietenia macrophylla) yang cukup tinggi. Keragaman
genetik yang cukup tinggi menyebabkan fenotipe yang tinggi sehingga perlu
dilakukan analisis morfologi dan fisiologi.
Manfaat
mahoni yakni dijadikan sebagai tanaman pelindung, pohon mahoni memiliki batang
yang besar dan cukup tinggi serta memiliki daun yang rimbun. Tanaman mahoni
juga mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup
tinggi. Kualitas kayunya bertekstur keras dan sangat baik untuk meubel,
furnitur, barang-barang ukiran dan berbagai kerajinan tangan. Kayu Mahoni juga
sering dibuat untuk penggaris karena sifatnya yang tidak mudah berubah.
Pemanfaatan lain dari tanaman Mahoni adalah kulitnya yang dapat dipergunakan
untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit Mahoni akan menjadi
kuning dan tidak mudah luntur. Getah mahoni disebut juga blendok dapat
dipergunakan sebagai bahan baku lem, dan daunnya dapat digunakan untuk pakan
ternak.
Mahoni kini ditanam secara luas di daerah
tropis untuk program reboisasi dan penghijauan bermanfaat sebagai tanaman
naungan dan kayu bakar. Manfaat lainnya dari pohon kayu mahoni yakni bisa
mengurangi polusi udara sekitar 47%- 69% sehingga layak disebut pohon pelindung
sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air, sedangkan daun-daunnya,
memiliki fungsi sebagai penyerap polutan-polutan di sekitarnya. Mahoni juga
memiliki fungsi sebagai obat yang terkandung pada biji dan kulit dari buahnya,
yang dijadikan serbuk. Biji digunakan sebagai obat untuk tekanan darah tinggi,
kencing manis, kurang nafsu makan, rematik, demam, masuk angin, serta ekzema.
Biji Mahoni juga dipakai untuk pengobatan malaria.
Tempat Tumbuh Mahoni termasuk
tanaman yang tahan naungan (tolerance spesies) yang mampu bersaing dengan
alang-alang ataupun semak belukar dalam memperoleh sinar matahari, sehingga
cocok untuk tanaman reboisasi pada areal alang – alang yang rapat. Perakaran
waktu muda sangat cepat tumbuhnya terutama akar tunggang sehingga memerlukan
jenis tanah dengan solum yang agak tebal. Mahoni ditanam di pulau jawa pada
berbagai jenis tanah, di daerah dengan curah hujan 500 – 2500 mm/th atau tipe
iklim A-Dmenurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson pada sampai 1000 mdpl. Iklim
yang cocok untuk tanaman mahoni sangat bervariasi, umumnya yang mempunyai curah
hujan yang tinggi. Mahoni tumbuh di Amerika Tengah dengan curah hujan kira –
kira 1500 mm/th. Mahoni umunya tumbuh di daerah tropis, di daratan rendah
hingga ketinggian 1500 mdpl.
3.
Akasia (Acacia mangium)
Akasia
termasuk tanaman yang cepat tumbuh dan mudah tumbuh pada kondisi lahan yang
rendah tingkat kesuburannya, seperti pada lahan marginal dengan pH rendah,
tanah berbatu serta tanah yang telah mengalami erosi. Jumlah curah hujan di
areal tumbuhnya akasia bervariasi dari 1.000 mm sampai lebih dari 4.500 mm
dengan rata-rata suhu 12-340C. Akasia sangat membutuhkan sinar matahari, tidak
toleran terhadap naungan dan akan tumbuh kurang subur dengan bentuk tinggi dan
kurus. Dapat tumbuh pada ketinggian di atas permukaan laut sampai 480 m dan
bisa mengalami kematian jika terkena kekeringan yang parah atau musim dingin yang
berkepanjangan
Pohon
akasia termasuk tumbuhan dikotil yang berakar tunggang berwarna putih kotor dan
bercabang. Akar tunggang berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus kebawah,
akanya bercabang banyak sehingga dapat memberi kekuatan lebih besar kepada batang
dan juga zat-zat makanan yang diperoleh lebih banyak sehingga dapat tumbuh
subur dan pesat pohon akasia pada umumnya besar dan bisa mencapai ketinggian 30
m, dengan batang bebas cabang lurus yang bisa mencapai lebih dari setengah
total tinggi pohon.
A. mangium adalah salah satu tanaman
yang dapat dijadikan sebagai bahan utama pembuatan kertas. Potensi utama kayu
akasia sebagai bahan baku pulp sudah diakui secara luas oleh perindustrian
kayu, akasia juga berpotensi sebagai tanaman penghijau di perkotaan. Manfaat
dari tanaman akasia adalah sebagai penghasil pulp dan kertas, furniture, kayu
lapis, lantai dan kontruksi bangunan. Di Indonesia luas tanaman akasia telah
mencapai 1.2 juta ha dan sebagian besar berupa tanaman A. mangium.
Akasia
termasuk tanaman yang cepat tumbuh dan mudah tumbuh pada kondisi lahan yang
rendah tingkat kesuburannya, seperti pada lahan marginal dengan pH rendah,
tanah berbatu serta tanah yang telah mengalami erosi. Jumlah curah hujan di
areal tumbuhnya akasia bervariasi dari 1.000 mm sampai lebih dari 4.500 mm
dengan rata-rata suhu 12-34 0C Akasia sangat membutuhkan sinar matahari, tidak
toleran terhadap naungan dan akan tumbuh kurang subur dengan bentuk tinggi dan
kurus. Dapat tumbuh pada ketinggian di atas permukaan laut sampai 480 m dan
bisa mengalami kematian jika terkena kekeringan yang parah atau musim dingin
yang berkepanjangan.
Bagian-bagian
dari pohon akasia dapat diolah diambil manfaatnya untuk berbagai keperluan,
yaitu parfum dimana pohon akasia dapat digunakan untuk bahan baku ornamen
minyak wangi, aroma khas yang dihasilkan dari pohon semak berduri ini sangat
khas dan banyak digemari. Tanaman Hias, salah satu spesies akasia, yakni Acacia
dealbata, Acacia retinodes, Acacia xanthophloea, dan Acacia baileyana banyak dimanfaatkan
untuk tanaman hias yang bernilai jual tinggi dan indah. Astrigen dimana
kandungan tanin dari akasia dapat di ekstraksi dengan metode penguapan,
astrigen banyak digunakan untuk produk-produk kecantikan. Obat diabetes dan
hipertensi dimana air rebusan daun
akasia dapat membantu menormalkan kadar gula dalam darah. Menjaga Struktur
tanah, pohon akasia dapat digunakan untuk menahan lereng atau tebing yang curam
agar terhindar dari longsor. Peneduh Jalan, beberapa ruas jalan, pohon akasia
sengaja di tanam sebagai peneduh jalan. Perabot rumah tangga dan kosntruksi
bangunan, kayu akasia juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan perabot rumah
tangga, seperti almari, meja dan kursi. Selain itu, kayu akasia juga bermanfaat
untuk struktur rumah.
Saat
ini pohon Akasia telah banyak ditanam, terutama di Benua Asia. Kegunaan utama kayu Akasia adalah sebagai
bahan baku pembuatan kertas, fungsi
lainnya sebagai kayu bakar, kayu konstruksi dan bahan baku furniture. Tegakannya berguna sebagai pengendali erosi,
tempat tinggal bagi hewan dan sebagai
peneduh.Sifat yang bernilai dari jenis ini adalah kemampuannya untuk berkompetisi dengan rumput sehingga dapat
mengurangi jumlah rumput pada tanah yang
penutupan lahannya jarang. Pemanfaatan kayu Akasia hingga saat ini telah
mengalami spektrum yang luas, terutama
untuk kayu serat sebagai bahan baku industri pulp dan kertas, dengan adanya
perubahan kondisional baik yang menyangkut kapasitas industri maupun adanya
desakan kebutuhan kayu, maka kayu Akasia
digunakan pula sebagai kayu pertukangan maupun kayu energi sebagai bahan bakar arang.
Pohon
Akasia juga dapat digunakan sebagai pohon penaung, ornamen, penyaring, pembatas dan penahan angin, serta
dapat ditanam pada sistem wanatani dan
pengendali erosi. Jenis ini banyak dipilih oleh petani untuk tujuan peningkatan
kesuburan tanah ladang atau padang
rumput. Pohon Akasia mampu berkompetisi dengan gulma yang agresif,
seperti alang-alang
(Imperatacylindrica); jenis ini juga mengatur nitrogen udara dan menghasilkan banyak serasah, yang dapat
meningkatkan aktivitas biologis tanah
dan merehabilitasi sifat-sifat fisika dan kimia tanah (Otsamo dkk.
1995). Pohon Akasia juga dapat digunakan
sebagai penahan api karena pohon berdiameter 7 cm atau lebih biasanya tahan terhadap api.
Akasia termasuk tanaman yang cepat
tumbuh dan mudah tumbuh pada kondisi lahan yang rendah tingkat kesuburannya,
seperti pada lahan marginal dengan pH rendah, tanah berbatu serta tanah yang
telah mengalami erosi. Jumlah curah hujan di areal tumbuhnya akasia bervariasi
dari 1.000 mm sampai lebih dari 4.500 mm dengan rata-rata suhu 12-34 0C. Akasia
sangat membutuhkan sinar matahari, tidak toleran terhadap naungan dan akan
tumbuh kurang subur dengan bentuk tinggi dan kurus (Litbang, 1994). Dapat tumbuh
pada ketinggian di atas permukaan laut sampai 480 m dan bisa mengalami kematian
jika terkena kekeringan yang parah atau musim dingin yang berkepanjangan .
4.
Kamper/Kapur (Cinnamomum camphora)
Nama-nama kayu kapur di berbagai daerah
diantaranya adalah kayu kapur, kamper, dan hayu hapur.13 Ampadu, ampalang,
awang tanet, bayau, belakan, binderi, empedu, kalampait, kapur, kapur hitam,
kapur kedemba, kapur merah, kapur naga, kapur sintuk, kapur tanduk, kapur
tulang, kayatan, keladan, melampait, mengkayat, mohoi, muri, serapan, sintok,
tulai, wahai (Kalimantan), haburuan, kaberun, kamfer, kuras (Sumatera).14 Di
Indonesia pohon kamper tersebar di daerah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Riau dan seluruh wilayah Kalimatan. Kayu kapur merupakan pohon besar yang tumbuh
pada ketinggian 400 m dpl. Kapur barus terletak pada bagian dalam kulit kayu,
baunya seperti lada. Diameter batangnya mencapai 70 cm bahkan 150 meter dengan
tinggi pohon mencapai 60 meter. Kulit pohon berwarna coklat dan coklat
kemerahan di daerah dalam. Pada batangnya akan mengeluarkan aroma kapur bila
dipotong. Daun kayu kapur tunggal dan berseling, memiliki stipula di sisi
ketiak, dengan permukaan daun mengkilap, dan tulang daun sekunder menyirip
sangat rapat dengan stipula berbentuk garis dan sangat mudah luruh. Bunga
berukuran sedang, kelopak mempunyai ukuran sama besar, mempunyai mahkota bunga
elips, mekar, putih berlilin, dan memiliki 30 benang sari.
Deskripsi
Morfologi Pohon kamper mempunyai ukuran yang besar dan tinggi. Diameter
batangnya mencapai 70 cm bahkan 150 meter dengan tinggi pohon mencapai 60
meter. Kulit pohon berwarna coklat dan coklat kemerahan di daerah dalam. Pada
batangnya akan mengeluarkan aroma kapur bila dipotong. Batang sedikit beralur,
mengelupas besar, kulit hidup berwarna kuning-merah. Daun kamper tunggal dan
berseling, memiliki stipula di sisi ketiak, dengan permukaan daun mengkilap,
dan tulang daun sekunder menyirip sangat rapat dengan stipula berbentuk garis
dan sangat mudah jatuh. Bunga berukuran sedang, kelopak mempunyai ukuran sama
besar, mempunyai mahkota bunga elips, mekar, putih berlilin, dan memiliki 30
benang sari. Pohon Kamper memiliki buah agak besar, mengkilap, dan bersayap
sebanyak 5 helai (Sutrisna, 2008). Kamper tumbuh di hutan dipterocarpa campuran
hingga ketinggian 300 meter dpl. Persebaran tumbuhan langka ini mulai dari
Indonesia (pulau Sumatera dan Kalimantan) dan Malaysia (Semenanjung Malaysia,
Sabah, dan Serawak).
Kamper
adalah salah satu jenis pohon yang diketahui pasti mengandung borneol. Unsur yang
dimanfaatkan dari pohon kamper ini adalah kristal kapur dan minyak kamper.
Kristal kamper diperoleh pada bagian tengah (dalam) batang pohon. Kedua unsur
tersebut tidak selalu ada pada pohon kamper terutama pada pohon yang berusia
ratusan tahun atau pada pohon yang masih terlalu muda (Sutrisna, 2008). Kamper
mempunyai kualitas borneol yang baik.Minyak kamper banyak digunakan untuk
produk kosmetik, dengan sasaran pada pembuatan lilin aromaterapi, sabun anti
jerawat. Berdasarkan uji organoleptik, kamper juga berpotensi sebagai bahan
parfum yang disukai. Minyak dan kristal kamper berpotensi sebagai obat karena
aktivitas antimikroba minyak dan kristal sangat baik menghambat pertumbuhan
mikroba S. aureus dan C. albicans. Kandungan borneolnya juga dianggap sebagai
bio medicine untuk mencegah pengentalan dan pembekuan. Selain resinnya, kayu
kamper banyak digunakan sebagai balok, tiang dan konstruksi atap, papan pada
bangunan perumahan dan jembatan, perkapalan, peti dan mebel.
5.
Trembesi (Samanea saman)
Tanaman
trembesi dikenal dengan beberapa nama dalam bahasa Inggris seperti, Rain Tree,
Monkey Pod, East Indian Walnut, Saman Tree, dan False Powder Puff. Di Negara
sub tropis tanaman trembesi dikenal dengan nama Bhagaya Mara (Kanada),
Algarrobo (Kuba), Campano (Kolombia), Regenbaum (Jerman), Chorona (Portugis),
sedangkan di beberapa Negara Asia pohon ini disebut Pukul Lima (Malaysia),
Jamjuree (Thailand), Cay Mura (Vietnam), Vilaiti Siris (India). Tanaman ini
merupakan jenis tanaman yang berasal dari Amerika tengah dan Amerika selatan
sebelah utara (Staples dan Elevitch, 2006). Tanaman trembesi mudah dikenali
dari kanopinya yang indah dan luas, sehingga tanaman ini sering digunakan
sebagai tanaman hias dan peneduh sekaligus mampu sebagai penyerap polutan dan
karbon.
Tanaman
trembesi dapat mencapai ketinggian rata-rata 20-25 m. Bentuk
batangnya tidak beraturan, dengan daun
majemuk yang panjangnya sekitar 7-15 cm, sedangkan pada pohon trembesi yang
sudah tua berwarna kecoklatan, permukaan kulit kasar, dan terkelupas. Bunga
tanaman ini berwarna putih dengan
bercak merah muda pada bagian bulu atasnya,
panjang bunga mencapai 10 cm dari pangkal bunga hingga ujung bulu bunga. Bunga
trembesi menghasilkan nektar untuk menarik serangga guna berlangsungnya proses
penyerbukan. Buah trembesi berwarna coklat kehitaman ketika buah sudah masak,
dengan biji tertanam dalam daging buah. Perkembangbiakan dapat dilakukan dengan
beberapa cara yaitu biji, stek batang (menggunakan tunas vertikal), stek akar,
dan stump. Jika dibutuhkan dalam skala besar biji dikoleksi untuk disemaikan di
persemaian atau dengan cara menanam langsung di lapangan.
Trembesi digunakan terutama sebagai
pohon peneduh dan hiasan. Trembesi adalah pohon besar dan tumbuh cepat,mahkota
daun menyerupai payung dan lebar, banyak ditanam karena naungan, daunnya
digunakan sebagai pakan ternak, buahnya menyerupai polong yang tebal dan
berdaging. Tumbuhan ini pernah populer sebagai tanaman peneduh. Pohon ini
mempunyai beberapa julukan seperti Saman, pohon hujan, dan monkey pod. Perakarannya
sangat meluas sehingga kurang populer karena dapat merusak jalan, Perum
Perhutani menggunakan trembesi sebagai peneduh di tempat pengumpulan kayu.
Dalam upaya pengurangan emisi karbon, pemerintah melalui program one man one
tree menggalakkan penanaman tembesi karena trembesi diyakini sebagai penyerap
karbon yang tinggi. Selain tanaman peneduh, trembesi memiliki kegunaan sebagai
obat-obatan. Daun trembesi dapat digunakan sebagai obat tradisional antara lain
demam, diare, sakit kepala, dan sakit perut. Biji yang tua dapat diolah sebagai
makanan ringan dan berkhasiat sebagai obat pencuci perut dengan cara merebus
biji dengan air panas lalu air rebusannya diminum. Daun trembesi mengandung
senyawa metabolit sekunder yaitu tanin, selain tanin daun trembesi juga
mengandung flavonoid, saponin, steroid, terpenoid, dan glikosida kardiak.
Sementara itu, hasil penelitian dari Raghavendra et al. (2008) diperoleh bahwa
daun trembesi juga mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid. Selain
sebagai pohon peneduh, tanaman trembesi dapat pula digunakan sebagai bahan obat
tradisional seperti diare, demam, sakit perut, dan sakit kepala. Sementara biji
dari trembesi dapat digunakan sebagai obat pencuci perut dengan menyeduh
bijinya menggunakan air panas dan air seduhannya dapat langsung diminum. Selain
itu ekstrak dari daun trembesi dapat digunakan sebagai antimikroba terhadap
Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Candida albican, dan Xanthomonas.
6.
Saga (Adenanthera pavonina)
Saga
merupakan tumbuhan perdu yang tumbuh dengan cara membelit. Saga dapat tumbuh
mencapai panjang 2-5 meter, dengan batang berkayu yang berbentuk bulat. Daun
saga merupakan daun yang majemuk yang berselangseling, menyirip ganjil, anak
daunnya berjumlah 8-18 pasang, dengan bentuk bulat telur dan ujungnya
meruncing, panjang daun mencapai 6-25 mm, lebar daun mencapai 3-8 mm, tepi daun
rata dan berwarna hijau. Bunga saga termasuk bunga majemuk, berbentuk tandan
yang bagian atas terdiri dari bunga jantan dan benang sari bersatu pada tabung,
panjang tangkai 1cm, berwarna putih dan kepala sari berwarna kuning, tajuk
bunga bersayap. Buah saga berbentuk polong, panjang buah saga mencapai 2-5 cm
dan berwarna hijau. Biji saga berbentuk bulat telur yang keras, panjang bijinya
mencapai 6- 7 mm dan tebal biji mencapai 4-5 mm, biji saga berwarna merah yang
mempunyai bercak kecil di ujung biji yang berwarna hitam. Akar saga merupakan
jenis akar tunggang yang berwarna coklat. Tumbuhan saga dapat tumbuh dengan
baik pada daerah dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan
laut
Saga
pohon (Adenanthera pavonina L.) adalah pohon
yang buahnya menyerupai petai dengan bijinya kecil berwarna merah. Tumbuhan ini
berasal dari Asia Selatan namun sekarang telah tersebar pantropis. Saga pohon
umum dipakai sebagai pohon peneduh di jalan-jalan besar. Tumbuhan ini juga
mudah ditemui di pantai. merupakan tanaman serbaguna, semua bagian tanaman
bermanfaat mulai dari biji, kayu, kulit batang dan daunnya. Saga pohon mampu
memproduksi biji kaya protein serta tidak memerlukan lahan khusus untuk
penanaman karena bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu dipupuk atau
perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak
memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah lingkungan karena dapat ditanam
bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat pada biji saga pohon
tersebut juga lebih besar bila dibandingkan dengan kedelai dan beberapa tanaman
komersil lainnya. Jenis ini umumnya dipakai sebagai peneduh di jalan-jalan
besar dan juga mudah ditemukan di pantai. Daunnya dapat dimakan dan mengandung
alkaloid yang berkhasiat bagi penyembuh reumatik. Bijinya dapat digunakan
sebagai bahan tempe non kedelai karena kaya protein dan sumber energi
alternatif (biodiesel) karena mengandung asam lemak.
Jumlah asam lemak bebas yang terkandung pada
biji/benih saga pohon relatif tinggi terutama peroksida dan saponification
senilai 29,6 mEqkg dan 164,1 mgKOHg. Selain itu, saga pohon juga mengandung
protein (2,44 g/100 g), lemak (17,99 g/100 g), mineral, gula yang rendah (8,2
g/100 g), tajin (41,95 g/100 g) dan karbohidrat. Kayunya keras sehingga banyak
dipakai sebagai bahan bangunan serta mebel. Mengingat banyaknya manfaat dan
kegunaan dari pohon saga tersebut, maka pohon saga mempunyai potensi dan perlu
dikembangkan melalui budidaya. Kawasan hutan produksi yang tidak produktif dan
lahan kritis di luar kawasan hutan dapat ditanami saga. Manfaat dan kegunaan
pohon ini dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat dan sumber pendapatan
suatu daerah.
Saga Pohon tumbuh baik di daerah tropika, dan
tidak memerlukan pemeliharaan khusus serta mampu tumbuh baik di daerah berbatu,
di daerah payau ataupun di tanah alang-alang. Tanaman ini mampu tumbuh pada
berbagai keadaan topografi mulai dari topografi datar sampai dengan kelerengan
yang curam/terjal selain itu dapat tumbuh pada berbagai kondisi tanah, mulai
dari tanah kurang subur hingga tanah yang subur, serta pada tanah yang
tergenang air laut/asin.
Biji
saga pohon dapat dikonsumsi manusia, di beberapa daerah di Indonesia biji saga
sudah biasa dimanfaatkan untuk bahan makanan. Biji saga pohon sejak tahun 1979
di desa Nagoega, kecamatan Boa Wae telah dimanfaatkan untuk bahan campuran kopi
(kopi saga) dan di daerah Ende telah dimanfaatkan untuk pembuatan kecap, kopi
saga, tempe saga. Biji saga-pohon mengandung protein cukup tinggi sehingga
dapat digunakan sebagai sumber protein nabati disamping kedele, oleh karena itu
diharapkan dapat dijadikan komoditi baru dalam menunjang usaha penanggulangan
kekurangan gizi dan pangan. Kadar asam amino biji saga-pohon hampir mirip
dengan asam amino kedele, dimana asam amino glutamate merupakan komponen
tertinggi yang terkandung dalam kedua jenis tersebut.
Kulit batang yang masih segar atau
kering mengandung saponin yang dapat digunakan untuk membersihkan rambut dan
mencuci pakaian tetapi tidak memberikan banyak buih dan berkhasiat untuk
mencuci luka yang lama. Untuk mencuci luka lama dipakai ±20 gram kulit batang,
dicuci dan dipotong kecilkecil, direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit,
dinginkan dan saring. Hasil saringan dipakai untuk membersihkan luka. Daun Daun
dari tanaman ini dapat digunakan sebagai bahan obat. Di India daun saga-pohon
digunakan untuk obat rheumatik dan gout (sejenis penyakit tulang). Selain itu,
daun biasa digunakan para peternak sebagai sumber tambahan pakan ternak dan
dimanfaatkan para petani sebagai pupuk hijau.
BAB III
Kesimpulan
Kesimpulan
1.
Pohon adalah tumbuhan menahun dengan
batang yang tumbuh memanjang, mendukung cabang dan daun pada sebagian besar
spesies.
2.
penanaman pohon ini adaah untuk
meningkatkan kepedulian dari berbagai pihak akan pentingnya penanaman dan
pemeliharaan pohon yang berkelanjutan dalam mengurangi dampak pemanasan global
dan untuk mencapai Pembangunan Indonesia yang hijau
3.
Pinus merupakan salah satu pohon
penghasil kayu bernilai ekonomis tinggi dan juga penghasil getah sehingga
disebut pohon berfungsi ganda, getah Pinus masih menjadi HHBK “primadona” di
pasar nasional hingga internasional.
4.
Tanaman mahoni adalah tanaman tahunan
dengan tinggi yang bisa mecapai 10 – 20 m dan diameter lebih dari 100 cm.
Tanaman mahoni juga mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis
yang cukup tinggi. Kualitas kayunya bertekstur keras dan sangat baik untuk
meubel, furnitur, barang-barang ukiran dan berbagai kerajinan tangan.
5.
Akasia termasuk tanaman yang cepat
tumbuh dan mudah tumbuh pada kondisi lahan yang rendah tingkat kesuburannya,
Manfaat dari tanaman akasia adalah sebagai penghasil pulp dan kertas,
furniture, kayu lapis, lantai dan kontruksi bangunan.
Saran
Sebaiknya
praktikan mengikuti praktikum dari awal dan akhir dengan fokus agar dapat memahami
materi dan dapat melakukan praktek langsung supaya tidak terjadi kesalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Carolina Eva Nita, Bambang Siswanto, Wani Hadi Utomo.
2015. Pengaruh Pengolahan Tanah dan Pemberian Bahan Organik (Blotong dan Abu
Ketel) terhadap Porositas Tanah Dan Pertumbuhan Tanaman Tebu Pada Ultisol.
Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan 2(1): 119-127.
Eri Widianto, Dian Budhi Santoso, Kardiman, Asep Erik
Nugraha. 2020. Pemberdayaan Masyarakat tentang Pemanfaatan Tanaman Saga (Abrus
Precatorius L) di Desa Tanahbaru Pakisjaya Karawang. Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat, 4(1):63-69.
Muh. Azdar Setiawan* , Muh. Syaiful Saehu, Kartini.2019.
Uji Efek Antidiabetik Ekstrak Daun Trembesi (Albizia saman (Jacq.) Merr)
Terhadap Mencit (Mus musculus L). Jurnal Warta Farmasi 8(2): 43-52.
S.Agung Sri Raharjo, Hery Kurniawan, Aziz Umroni, Eko
Pujiono, Mellianus Wanaha. 2016. Potensi Mahoni (Swietenia macrophylla King)
Pada Hutan Rakyat Sistem Kaliwo di Malimada, Sumba Barat Daya. Jurnal Ilmu
Lingkungan, 14(1):1-10.
Skandar, Dudi., dan
Ahmad Suhendra. 2012. Uji Inokulasi Fusarium Sp untuk Produksi Gaharu
pada Budidaya A. Beccariana. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 14, No.
3 : 182-188
Rimbawanto, Anto., Noor Khomsah Kartikasari., dan
Prastyono. 2017. Minyak Kayuputih : Dari Tanaman Asli Indonesia Untuk
Masyarakat Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Kaliwangi
Santoso, Erdy., Luciasih Agustini., Irnayuli R. Sitepu.,
dan Maman Turjaman. 2007. Efektivitas Pembentukan Gaharu dan Komposisi Senyawa
Resin Gaharu Pada Aquilaria spp. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Vol. IV No. 6 : 543-551.
Suwaji, Sugianto., Arifuddin Lamusa., dan Dafina Howara.
2017. Analisis Pendapatan Petani Penyadap Getah Pinus di Desa Tangkulowi
Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. E-Jurnal Agrotekbis 5 (1) :
127 – 133
Tidak ada komentar:
Posting Komentar