Paper
Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Juni 2021
Analisis Nilai Ekonomi Mangrove Di Kabupaten Muna
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko,
S.Hut., M.Si.
Oleh :
Denise Angelina E. Siburian
191201052
HUT 4C

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan
yang berjudul “Analisis Nilai Ekonomi Mangrove Di Kabupaten Muna” ini dengan
baik dan tepat waktu. Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini disusun
untuk memenuhi salah satu tugas Mata
Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan dan sebagai
salah satu syarat masuk Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program
Studi Kehutanan, Fakultas
Kehutanan, Universitas
Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian makalah
ini, penulis penulis
tidak dapat menyelesaikannya tanpa bantuan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen
pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan, yang telah mengajarkan materi dengan
baik dan telah membantu
penulis dalam melaksanakan pembelajaran yang hasilnya
kemudian dituangkan dalam paper ini.
Penulis sadar,penulisan laporan ini masih
jauh dari kata sempurna, baik dari
segi teknik maupun materi. Oleh sebab itu, penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan Paper Ekonomi
Sumberdaya Hutan ini. Akhir kata, semoga Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Juni 2021
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
BAB I PENDAHUAN
1.2
Rumusan Masalah................................................................................... 2
2.1
Manfaat dan
Fungsi Hutan Mangrove.................................................... 3
2.2
Nilai Ekonomi
Hutan Mangrove............................................................. 3
2.3 Kondisi Vegetasi di Hutan Mangrove..................................................... 4
2.4 Kondisi Sosial Ekonomi Hutan Mangrove Kabupaten Muna................. 4
Saran............................................................................................................ 6
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan mangrove memiliki
peranan cukup penting yakni sebagai sumber mata pencaharian, karena dapat
menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi terutama sebagai penghasil produk
kayu, ikan, kepiting, kerang dan lain-lain, serta sebagai wahana rekreasi dan
wisata alam maupun pendidikan. Dewasa ini, peranan mangrove bagi lingkungan
sekitarnya dirasakan semakin besar, oleh karena adanya berbagai dampak
merugikan yang dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya hutan mangrove,
seperti tsunami, intrusi air laut, dan lain-lain. Sebagai sumberdaya alam yang
memiliki potensi ekonomi, pemanfaatan hutan mangrove perlu dilakukan
sebaik-baiknya sehingga dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan dengan
tetap memperhatikan kelestarian, sehingga manfaat yang diperolehpun dapat
berkelanjutan (sustainable). Namun,
terkadang pemanfaatan tersebut tidak memperhatikan batas-batas kemampuan atau
daya dukung lingkungan baik secara biologis, fisik, ekologis maupun secara
ekonomis, sehingga menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat. Masalah
mendasar dalam pengelolaan sumberdaya alam menurut Fauzi, A. (2004) adalah
upaya mengelolah sumberdaya alam tersebut agar menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya
bagi manusia tanpa mengorbankan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri.
Hutan
mangrove merupakan suatu ekosistem yang kompleks dan khas, serta memiliki daya
dukung cukup besar terhadap lingkungan di sekitarnya. Oleh karenanya ekosistem
mangrove dikatakan produktif dan memberikan manfaat tinggi melalui fungsi
ekonomi maupun ekologis. Sebagai suatu ekosistem dan sumberdaya alam,
pemanfaatan mangrove diarahkan untuk kesejahteraan umat manusia dan untuk
mewujudkan pemanfaatannya agar dapat berkelanjutan, maka ekosistem mangrove
perlu dikelola dan dijaga keberadaannya. Kerangka pengelolaan hutan mangrove terdapat
dua konsep utama. Pertama, perlindungan hutan mangrove yaitu suatu upaya
perlindungan terhadap hutan mangrove menjadi kawasan hutan mangrove konservasi.
Kedua, rehabilitasi hutan mangrove yaitu kegiatan penghijauan yang dilakukan
terhadap lahan-lahan yang dulu merupakan salah satu upaya rehabilitasi yang
bertujuan bukan saja untuk mengembalikan nilai estetika, tetapi yang paling
utama adalah untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan mangrove yang
telah ditebang dan dialihkan fungsinya kepada kegiatan lain (Patang, 2012).
Fungsi hutan mangrove sebagai
tempat penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan
tingkat produktivitas yang tinggi, selain itu juga memiliki berbagai macam
fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penting. Salah satu fungsi sosial
hutan mangrove adalah memungkinkannya berfungsi sebagai tujuan wisata, serta
fungsi ekonomi bagi masyarakat sekitar dalam mendapatkan mata pencaharian yang
baru. Mangrove merupakan karakteristik dari bentuk tanaman pantai, estuari atau
muara sungai, dan delta di tempat yang terlindung daerah tropis dan sub tropis.
Dengan demikian maka mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan
dan lautan dan pada kondisi yang sesuai mangrove akan membentuk hutan yang entensif
dan produktif. Karena hidupnya didekat pantai, mangrove sering juga dinamakan
hutan pantai, hutan pasang surut, atau hutan bakau (Daryanto, 2013).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dari paper ESDH yang berjudul “Analisis Nilai Ekonomi Mangrove
Di Kabupaten Muna” adalah sebagai berikut:
1. Apa manfaat dan fungsi dari hutan
mangrove?
2. Apa saja nilai ekonomi yang di
dapatkan dari hutan mangrove?
3. Bagaimana kondisi vegetasi di
hutan mangrove?
4. Bagaimana kondisi sosial ekonomi
di hutan mangrove kabupaten Muna?
1.3 Tujuan
Adapun
tujuan dari paper ESDH yang berjudul “Analisis Nilai Ekonomi Mangrove Di
Kabupaten Muna” adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui manfaat dan
fungsi dari hutan mangrove
2. Untuk mengetahui nilai ekonomi
yang di dapatkan dari hutan mangrove
3. Untuk mengetahui kondisi vegetasi
di hutan mangrove
4. Untuk mengetahui kondisi sosial
ekonomi di hutan mangrove kabupaten Muna
BAB II
ISI
2.1 Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove
Nilai manfaat langsung yang
diperoleh masyarakat disekitar hutan mangrove (local direct use value) didekati dengan laba bersih yang dihasilkan
untuk penggunaan lokal. Manfaat tidak langsung didekati dengan metode Replacement Cost (Metode Biaya
Pengganti). Pendekatan tersebut digunakan untuk mengestimasi nilai manfaat
fisik sumberdaya hutan mangrove, manfaat biologis dan manfaat ekologis dengan
kriteria dan standar penilaian sebagaimana yang diajukan oleh Suryono (2006)
dan Apung (2011). Untuk estimasi nilai manfaat pilihan menggunakan pendekatan
benefit transfer dengan kriteria sebagaimana yang diajukan oleh Ruitenbeek
(1992). Sementara itu estimasi nilai manfaat keberadaan dengan menggunakan
metode Contingent Valuation. Fungsi hutan mangrove ialah hutan mangrove
memberikan peranan penting bagi siklus kehidupan biota laut dan berfungsi
sebagai pelindung daratan yang ada di dekatnya. Secara ekologis hutan mangrove
merupakan daerah asuhan (nursery ground),
daerah pencari makan (feeding ground)
dan daerah pemijahan (spawning ground)
bermacam biota perairan, baik yang hidup di perairan pantai maupun lepas
pantai. Hal ini yang menyebabkan terjadinya interaksi atau asosiasi antara
fauna dengan mangrove.
2.2 Nilai Ekonomi Dari Hutan Mangrove
Hutan
mangrove dan masyarakat sekitarnya memiliki hubungan yang sangat erat dan
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kondisi demikian terjadi
pula pada masyarakat di wilayah pesisir Desa Labone Kecamatan Lasalepa dan Desa
Wabintingi Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna yang mendiami daerah sekitar hutan
mangrove. Hal ini diketahui melalui jenis kegiatan ekonomi masyarakat dalam
pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat yang relatif cukup beragam.
Masyarakat boleh saja memanfaatkan hutan mangrove, namun aspek kelestarian dan
keberlanjutan (sustainable) baik
secara ekologi, ekonomi maupun sosial harus tetap diperhatikan. Nipa sebagai formasi
terakhir dari hutan mangrove dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan sebagai
bahan pembuatan atap bangunan. Daun nipa diolah dengan menggunakan parang serta
peralatan sederhana lainnya berupa kayu dan bambu. Rata-rata hasil pembuatan
atap bangunan mencapai 600 lembar per tahun. Sementara para responden pengambil
kayu mangrove jenis Rhizophora apiculata famili Rhizphoraceae ukuran lingkaran
batang rata-rata kisaran 15-40 cm. Hasil kayu bakar dijual kepada pedagang
pengumpul hingga ke pasar-pasar dengan hasil pemanfaatan mencapai 1.078 m3 per
tahun. Manfaat kepiting yakni kepiting rajungan dan kepiting bakau. Jumlah
pemanfaatan rata-rata mencapai 57 kg per tahun. Manfaat ikan dari penangkapan
di sekitar kawasan hutan mangrove. Jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan
disekitar hutan mangrove seperti ikan belanak dan beberapa jenis lainnya dengan
rata-rata pemanfaatan mencapai 775 kg per tahun.
2.3 Kondisi Vegetasi di Hutan Mangrove
Vegetasi
hutan mangrove terdiri atas Soneratia
alba, Bruguera vilosa, Rhizophora apiculata, Bruguera gymnorhiza, Soneratia sp.,
dan Avicenia marina. Nilai penutupan
jenis (Ci) 104,909, nilai tersebut lebih besar dari kriteria baku, yakni
vegetasi hutan mangrove kategori baik, tingkat penutupan padat Penutupan
tertinggi jenis Soneratia alba
54,238%, Bruguera vilosa 25,625%, Bruguera gymnorhiza, Rhizophora apiculata, Avicenia marina
dan Soneratia sp. <25%. Dominasi
jenis hutan mangrove famili Rhizophoraceae di Desa Wabintingi merupakan bentuk
adaptasi, oleh karena bakau famili tersebut memiliki tingkat kemampuan adaptasi
morfologi dan anatomi yang lebih baik dibanding jenis lainnya. Sementara itu,
spesies famili tersebut merupakan jenis spesies yang potensial untuk dijadikan
kayu bakar. Potensi kayu bakar di kawasan hutan mangrove Desa Wabintingi dimanfaatkan
oleh masyarakat di luar desa namun belum melampaui ambang batas daya dukung
sumberdaya.
2.4 Kondisi Sosial Ekonomi di Hutan Mangrove Kabupaten Muna
Nilai ekonomi yang dihasilkan dari pemanfaatan sumberdaya hutan mangrove di lokasi tersebut relatif terkait erat dengan kondisi vegetasi hutan mangrove itu sendiri. Implikasi dari kondisi tersebut yakni hutan mangrove Desa Wabintingi memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dengan kondisi vegetasi baik, sehingga ketersediaan dan kesinambungan (sustainability) dari sumberdaya alam tersebut menjadi sangat penting bagi ekonomi masyarakat Desa Wabintingi khususnya dan Kecamatan Lohia umumnya. Sementara hutan mangrove Desa Labone memiliki nilai ekonomi yang cukup rendah dengan kondisi vegetasi rusak, sehingga masyarakat melakukan tindakan pemanfaatan yang cenderung destruktif oleh karena hutan mangrove tidak lagi menyediakan usmberdaya perikanan yang memadai dalam menopang ekonomi masyarakat desa Labone. Dengan demikian, perlunya langkah perbaikan hutan mangrove baik itu dilakukan oleh masyarakat, lembaga penelitian atau pendidikan maupun pemerintah.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Hutan mangrove memiliki peranan
cukup penting yakni sebagai sumber mata pencaharian, karena dapat menghasilkan
berbagai produk bernilai ekonomi terutama sebagai penghasil produk kayu, ikan,
kepiting, kerang dan lain-lain, serta sebagai wahana rekreasi dan wisata alam
maupun pendidikan.
2. Fungsi hutan mangrove sebagai
tempat penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan
tingkat produktivitas yang tinggi, selain itu juga memiliki berbagai macam
fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penting.
3. Hutan mangrove dan masyarakat
sekitarnya memiliki hubungan yang sangat erat dan merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan.
4. Nilai ekonomi yang dihasilkan dari
pemanfaatan sumberdaya hutan mangrove di lokasi tersebut relatif terkait erat
dengan kondisi vegetasi hutan mangrove itu sendiri.
5. Manfaat ikan dari penangkapan di sekitar kawasan hutan mangrove. Jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan disekitar hutan mangrove seperti ikan belanak dan beberapa jenis lainnya dengan rata-rata pemanfaatan mencapai 775 kg per tahun.
3.2 Saran
Sebaiknya pemeliharaan dari hutan mangrove lebih ditingkatkan lagi, agar pemanfaatan nya lebih maksimal lagi. Diperlukan kepedulian dari masyarakat setempat agar hutan mangrove yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat dapat di maksimalkan lagi pemanfaatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto
dan Agung Suprihatin. 2013. Pengantar Pendidikan Lingkungan Hidup. Yogyakarta:
Gava Media
Noor
YR, Khazali M, Suryadiputra INN. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di
Indonesia. PHKA/WI-IP. Bogor.
Patang,
2012. Analisis Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove (Kasus Di Desa Tongke-Tongke
Kabupatan Sinjai). Jurnal Agrisistem,
8(2).
Rakhfid
A, Rochmady. 2014. Analisis Nilai Ekonomi Hutan Mangrove Di Kabupaten Muna
(Studi Kasus di Desa Labone Kecamatan Lasalepa dan Desa Wabintangi Kecamatan
Lohia). Jurnal Ilmiah Agribisnis dan
Perikanan, 6(1).
Setiawan
H. 2013. Status Ekologi Hutan Mangrove Pada Berbagai Tingkat Ketebalan. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea,
2(2).
Zanaria.,
2012.Visitors’ Management of Mangrove
Tourism Desa Teluk Pambang. Jurnal.Riau.
Wah informasi yang sangt bermanfaat
BalasHapusTerimakasih🙏
HapusWihh keren
BalasHapusTerimakasih🙏
HapusSangat bermanfaat!✨
BalasHapusTerimakasih🙏
HapusTerima kasih informasi nya👍🏻
BalasHapusTerimakasih🙏
HapusArtikelnya bermanfaat. Thank you :)
BalasHapusTerimakasih🙏🙏
BalasHapusikan hiu kehilangan mancis
BalasHapusmantap nian dencis
Mengedukasi sekali kaka
BalasHapus