Sabtu, 05 Juni 2021


Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                Medan,   Juni 2021

 

 

Analisis Nilai Ekonomi Mangrove Di Kabupaten Muna

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

 

Oleh  :

Denise Angelina E. Siburian


191201052


HUT 4C

 

 

 

 

 

                
                                    

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021




KATA PENGANTAR

 

 

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Analisis Nilai Ekonomi Mangrove Di Kabupaten Muna” ini dengan baik dan tepat waktu. Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan dan sebagai salah satu syarat masuk Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis penulis tidak dapat menyelesaikannya tanpa bantuan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan, yang telah mengajarkan materi  dengan baik dan telah membantu penulis dalam melaksanakan pembelajaran yang hasilnya kemudian dituangkan dalam paper ini.

Penulis sadar,penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Oleh sebab itu, penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini. Akhir kata, semoga Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Ini bermanfaat bagi kita semua.

 

Medan,      Juni 2021

 

 

 

 

Penulis

 

 

 

 


DAFTAR ISI

 

                                                                     Halaman

KATA PENGANTAR................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................ ii

BAB I PENDAHUAN

1.1  Latar Belakang........................................................................................ 1

1.2  Rumusan Masalah................................................................................... 2

1.3  Tujuan..................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1  Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove.................................................... 3

2.2  Nilai Ekonomi Hutan Mangrove............................................................. 3

2.3  Kondisi Vegetasi di Hutan Mangrove..................................................... 4

2.4  Kondisi Sosial Ekonomi Hutan Mangrove Kabupaten Muna................. 4

BAB III PENUTUP

Kesimpulan....................................................................................................6

 Saran............................................................................................................ 6

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Hutan mangrove memiliki peranan cukup penting yakni sebagai sumber mata pencaharian, karena dapat menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi terutama sebagai penghasil produk kayu, ikan, kepiting, kerang dan lain-lain, serta sebagai wahana rekreasi dan wisata alam maupun pendidikan. Dewasa ini, peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan semakin besar, oleh karena adanya berbagai dampak merugikan yang dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya hutan mangrove, seperti tsunami, intrusi air laut, dan lain-lain. Sebagai sumberdaya alam yang memiliki potensi ekonomi, pemanfaatan hutan mangrove perlu dilakukan sebaik-baiknya sehingga dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan dengan tetap memperhatikan kelestarian, sehingga manfaat yang diperolehpun dapat berkelanjutan (sustainable). Namun, terkadang pemanfaatan tersebut tidak memperhatikan batas-batas kemampuan atau daya dukung lingkungan baik secara biologis, fisik, ekologis maupun secara ekonomis, sehingga menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat. Masalah mendasar dalam pengelolaan sumberdaya alam menurut Fauzi, A. (2004) adalah upaya mengelolah sumberdaya alam tersebut agar menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia tanpa mengorbankan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri.

            Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang kompleks dan khas, serta memiliki daya dukung cukup besar terhadap lingkungan di sekitarnya. Oleh karenanya ekosistem mangrove dikatakan produktif dan memberikan manfaat tinggi melalui fungsi ekonomi maupun ekologis. Sebagai suatu ekosistem dan sumberdaya alam, pemanfaatan mangrove diarahkan untuk kesejahteraan umat manusia dan untuk mewujudkan pemanfaatannya agar dapat berkelanjutan, maka ekosistem mangrove perlu dikelola dan dijaga keberadaannya. Kerangka pengelolaan hutan mangrove terdapat dua konsep utama. Pertama, perlindungan hutan mangrove yaitu suatu upaya perlindungan terhadap hutan mangrove menjadi kawasan hutan mangrove konservasi. Kedua, rehabilitasi hutan mangrove yaitu kegiatan penghijauan yang dilakukan terhadap lahan-lahan yang dulu merupakan salah satu upaya rehabilitasi yang bertujuan bukan saja untuk mengembalikan nilai estetika, tetapi yang paling utama adalah untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan mangrove yang telah ditebang dan dialihkan fungsinya kepada kegiatan lain (Patang, 2012).

Fungsi hutan mangrove sebagai tempat penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan tingkat produktivitas yang tinggi, selain itu juga memiliki berbagai macam fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penting. Salah satu fungsi sosial hutan mangrove adalah memungkinkannya berfungsi sebagai tujuan wisata, serta fungsi ekonomi bagi masyarakat sekitar dalam mendapatkan mata pencaharian yang baru. Mangrove merupakan karakteristik dari bentuk tanaman pantai, estuari atau muara sungai, dan delta di tempat yang terlindung daerah tropis dan sub tropis. Dengan demikian maka mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan dan pada kondisi yang sesuai mangrove akan membentuk hutan yang entensif dan produktif. Karena hidupnya didekat pantai, mangrove sering juga dinamakan hutan pantai, hutan pasang surut, atau hutan bakau (Daryanto, 2013).

 

1.2 Rumusan Masalah

            Adapun rumusan masalah dari paper ESDH yang berjudul “Analisis Nilai Ekonomi Mangrove Di Kabupaten Muna” adalah sebagai berikut:

1. Apa manfaat dan fungsi dari hutan mangrove?

2. Apa saja nilai ekonomi yang di dapatkan dari hutan mangrove?

3. Bagaimana kondisi vegetasi di hutan mangrove?

4. Bagaimana kondisi sosial ekonomi di hutan mangrove kabupaten Muna?

 

1.3 Tujuan

            Adapun tujuan dari paper ESDH yang berjudul “Analisis Nilai Ekonomi Mangrove Di Kabupaten Muna” adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui manfaat dan fungsi dari hutan mangrove

2. Untuk mengetahui nilai ekonomi yang di dapatkan dari hutan mangrove

3. Untuk mengetahui kondisi vegetasi di hutan mangrove

4. Untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi di hutan mangrove kabupaten Muna



BAB II

ISI

2.1 Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove

            Nilai manfaat langsung yang diperoleh masyarakat disekitar hutan mangrove (local direct use value) didekati dengan laba bersih yang dihasilkan untuk penggunaan lokal. Manfaat tidak langsung didekati dengan metode Replacement Cost (Metode Biaya Pengganti). Pendekatan tersebut digunakan untuk mengestimasi nilai manfaat fisik sumberdaya hutan mangrove, manfaat biologis dan manfaat ekologis dengan kriteria dan standar penilaian sebagaimana yang diajukan oleh Suryono (2006) dan Apung (2011). Untuk estimasi nilai manfaat pilihan menggunakan pendekatan benefit transfer dengan kriteria sebagaimana yang diajukan oleh Ruitenbeek (1992). Sementara itu estimasi nilai manfaat keberadaan dengan menggunakan metode Contingent Valuation.  Fungsi hutan mangrove ialah hutan mangrove memberikan peranan penting bagi siklus kehidupan biota laut dan berfungsi sebagai pelindung daratan yang ada di dekatnya. Secara ekologis hutan mangrove merupakan daerah asuhan (nursery ground), daerah pencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan, baik yang hidup di perairan pantai maupun lepas pantai. Hal ini yang menyebabkan terjadinya interaksi atau asosiasi antara fauna dengan mangrove.

 

2.2 Nilai Ekonomi Dari Hutan Mangrove

            Hutan mangrove dan masyarakat sekitarnya memiliki hubungan yang sangat erat dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kondisi demikian terjadi pula pada masyarakat di wilayah pesisir Desa Labone Kecamatan Lasalepa dan Desa Wabintingi Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna yang mendiami daerah sekitar hutan mangrove. Hal ini diketahui melalui jenis kegiatan ekonomi masyarakat dalam pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat yang relatif cukup beragam. Masyarakat boleh saja memanfaatkan hutan mangrove, namun aspek kelestarian dan keberlanjutan (sustainable) baik secara ekologi, ekonomi maupun sosial harus tetap diperhatikan. Nipa sebagai formasi terakhir dari hutan mangrove dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan sebagai bahan pembuatan atap bangunan. Daun nipa diolah dengan menggunakan parang serta peralatan sederhana lainnya berupa kayu dan bambu. Rata-rata hasil pembuatan atap bangunan mencapai 600 lembar per tahun. Sementara para responden pengambil kayu mangrove jenis Rhizophora apiculata famili Rhizphoraceae ukuran lingkaran batang rata-rata kisaran 15-40 cm. Hasil kayu bakar dijual kepada pedagang pengumpul hingga ke pasar-pasar dengan hasil pemanfaatan mencapai 1.078 m3 per tahun. Manfaat kepiting yakni kepiting rajungan dan kepiting bakau. Jumlah pemanfaatan rata-rata mencapai 57 kg per tahun. Manfaat ikan dari penangkapan di sekitar kawasan hutan mangrove. Jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan disekitar hutan mangrove seperti ikan belanak dan beberapa jenis lainnya dengan rata-rata pemanfaatan mencapai 775 kg per tahun.

 

2.3 Kondisi Vegetasi di Hutan Mangrove

            Vegetasi hutan mangrove terdiri atas Soneratia alba, Bruguera vilosa, Rhizophora apiculata, Bruguera gymnorhiza, Soneratia sp., dan Avicenia marina. Nilai penutupan jenis (Ci) 104,909, nilai tersebut lebih besar dari kriteria baku, yakni vegetasi hutan mangrove kategori baik, tingkat penutupan padat Penutupan tertinggi jenis Soneratia alba 54,238%, Bruguera vilosa 25,625%, Bruguera gymnorhiza, Rhizophora apiculata, Avicenia marina dan Soneratia sp. <25%. Dominasi jenis hutan mangrove famili Rhizophoraceae di Desa Wabintingi merupakan bentuk adaptasi, oleh karena bakau famili tersebut memiliki tingkat kemampuan adaptasi morfologi dan anatomi yang lebih baik dibanding jenis lainnya. Sementara itu, spesies famili tersebut merupakan jenis spesies yang potensial untuk dijadikan kayu bakar. Potensi kayu bakar di kawasan hutan mangrove Desa Wabintingi dimanfaatkan oleh masyarakat di luar desa namun belum melampaui ambang batas daya dukung sumberdaya.

 

2.4 Kondisi Sosial Ekonomi di Hutan Mangrove Kabupaten Muna

            Nilai ekonomi yang dihasilkan dari pemanfaatan sumberdaya hutan mangrove di lokasi tersebut relatif terkait erat dengan kondisi vegetasi hutan mangrove itu sendiri. Implikasi dari kondisi tersebut yakni hutan mangrove Desa Wabintingi memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dengan kondisi vegetasi baik, sehingga ketersediaan dan kesinambungan (sustainability) dari sumberdaya alam tersebut menjadi sangat penting bagi ekonomi masyarakat Desa Wabintingi khususnya dan Kecamatan Lohia umumnya. Sementara hutan mangrove Desa Labone memiliki nilai ekonomi yang cukup rendah dengan kondisi vegetasi rusak, sehingga masyarakat melakukan tindakan pemanfaatan yang cenderung destruktif oleh karena hutan mangrove tidak lagi menyediakan usmberdaya perikanan yang memadai dalam menopang ekonomi masyarakat desa Labone. Dengan demikian, perlunya langkah perbaikan hutan mangrove baik itu dilakukan oleh masyarakat, lembaga penelitian atau pendidikan maupun pemerintah.

 


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Hutan mangrove memiliki peranan cukup penting yakni sebagai sumber mata pencaharian, karena dapat menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi terutama sebagai penghasil produk kayu, ikan, kepiting, kerang dan lain-lain, serta sebagai wahana rekreasi dan wisata alam maupun pendidikan.

2. Fungsi hutan mangrove sebagai tempat penampung sedimen, sehingga hutan mangrove merupakan ekosistem dengan tingkat produktivitas yang tinggi, selain itu juga memiliki berbagai macam fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang penting.

3. Hutan mangrove dan masyarakat sekitarnya memiliki hubungan yang sangat erat dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

4. Nilai ekonomi yang dihasilkan dari pemanfaatan sumberdaya hutan mangrove di lokasi tersebut relatif terkait erat dengan kondisi vegetasi hutan mangrove itu sendiri.

5. Manfaat ikan dari penangkapan di sekitar kawasan hutan mangrove. Jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan disekitar hutan mangrove seperti ikan belanak dan beberapa jenis lainnya dengan rata-rata pemanfaatan mencapai 775 kg per tahun.

3.2 Saran

            Sebaiknya pemeliharaan dari hutan mangrove lebih ditingkatkan lagi, agar pemanfaatan nya lebih maksimal lagi. Diperlukan kepedulian dari masyarakat setempat agar hutan mangrove yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat dapat di maksimalkan lagi pemanfaatannya.


DAFTAR PUSTAKA

Daryanto dan Agung Suprihatin. 2013. Pengantar Pendidikan Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Gava Media

Noor YR, Khazali M, Suryadiputra INN. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP. Bogor.

Patang, 2012. Analisis Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove (Kasus Di Desa Tongke-Tongke Kabupatan Sinjai). Jurnal Agrisistem, 8(2).

Rakhfid A, Rochmady. 2014. Analisis Nilai Ekonomi Hutan Mangrove Di Kabupaten Muna (Studi Kasus di Desa Labone Kecamatan Lasalepa dan Desa Wabintangi Kecamatan Lohia). Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan, 6(1).

Setiawan H. 2013. Status Ekologi Hutan Mangrove Pada Berbagai Tingkat Ketebalan. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 2(2).

Zanaria., 2012.Visitors’ Management of Mangrove Tourism Desa Teluk Pambang. Jurnal.Riau.


12 komentar:

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                 Medan,    Juni 2021     Analisis Nilai Ekonomi Mang...